01 Februari 2012

Interview SISCA TJONG, Designer



The Rising Young Designer
Lewat karyanya yang bergaris romantis dan dramatis, nama Sisca Tjong mulai terdengar di antara deretan desainer muda Indonesia. iCreate berbincang dengan perempuan punyuka musik jazz alternative dan film drama roman picisan ini di workshopnya di bilangan Jakarta Selatan. Sisca berbicara tentang karya  dan prinsipnya dalam bermain di industri fashion tanah air.
Teks: Moch. Reza Rizky                Fotografi: Laki Gushary


Mengapa Anda memilih untuk menjadi seorang desainer fashion?
Saya memang suka desain, suka gambar. Lebih tertarik ke dunia seni dari kecil. Setelah lulus SMA di Medan, saya melanjutkan kuliah sastra Mandarin di Taiwan. Saat itu saya masih bingung, sepertinya Taiwan bukan dunia saya, kemudian saya memutuskan pulang ke Indonesia dan belajar fashion design di ESMOD Jakarta. Sebenarnya saya sudah ingin masuk ESMOD sejak SMA sekitar tahun 2000, tapi belum diizinkan orang tua, karena saat itu dunia fashion masih  kurang menjanjikan. Setelah lulus dari ESMOD, baru mulai bikin label sendiri.

Bagaimana ceritanya hingga Anda akhirnya memiliki brand sendiri?
Awalnya iseng [tertawa]. Seperti banyak fresh graduate, sesudah lulus saya mencari-cari kerja. Sempat kerja di perusahaan garmen, tapi cuman bertahan tiga bulan. Saat itu ada teman yang mengajak untuk membuat label. Dulu masih belum ada indie label, yang terkenal distro atau high-end brand. Middle level label masih belum ada, jadi saya dan teman bikin label indie di 2007 namanya Paperdolls. Berhubung teman saya menikah pada waktu itu, jadi Paperdolls sampai sekarang saya yang urus. Untuk label Sisca Tjong awalnya custom made, waktu itu banyak teman yang minta dibikinin  baju. Dari pengalaman itu saya berpikir, “Pengalaman saya sudah ada, kenapa nggak sekalian saja bikin label nama sendiri.” Koleksi tiap musim Sisca Tjong sendiri baru mulai dibuat tahun ini. Semua itu diawali keseriusan, seru-seruan, bukan rencana yang sudah diatur.


Apa yang menjadi inspirasi desain Anda?
Transparansi dan dimensi, jadi koleksinya berbahan transparan dan tembus pandang.

Apakah ada material khusus yang digunakan untuk koleksi Anda?
Saya lebih memakai material yang siap pakai seperti katun, bahan-bahan kaos. Kalau yang couture tergantung dari volume baju. Untuk yang di Jakarta Fashion Week 2012 kemarin saya memakai bahan organza, sifon, tekstur, dan teknik raffling. Bahan-bahannya lebih banyak saya dapatkan dari Indonesia. 



Bagaimana Anda mendeskripsikan koleksi Anda sendiri?
Feminin, romantis, dan dramatis. Koleksi yang bisa dipakai semua orang. Ketika mendesain saya selalu memikirkan orang yang akan memakai baju saya. Jadi saya tidak akan bikin baju seperti yang dipakai Lady Gaga, tidak mungkin sekali, karena yang akan memakai hanya dia saja.

Ciri khas desain pakaian Anda seperti apa?
Saya suka bermain detail; bordir, cutting, struktural, dan dimensi. Orang yang baru tahu saya tidak akan mudah menangkapnya. Tapi yang sudah kenal pasti tahu, walau saya bikin satu koleksi dengan detail berbeda, selalu ada garis desain yang menjadi ciri khas saya.




Desainer yang menjadi inspirasi Anda?
Untuk dijadikan panutan, saya suka Biyan. Cara dia bekerja bagus, selalu mempunyai inspirasi yang berbeda-beda dan mengeluarkan sesuatu yang baru. Konsistensinya ada dan hampir sempurna untuk ukuran Indonesia. Untuk detail dan inovasi, beberapa desainer seperti Mel Ahyar dan Priyo Oktaviano. Kalau dari luar negeri saya suka Lanvin, Issey Miyake, dan Karl Lagerfeld.

Apa tantangan terbesar dalam pekerjaan Anda?
Dalam hal produksi dan menghadapi klien. Klien itu seperti bos untuk saya  dan sebenarnya kerjaan itu sendiri adalah tantangan, kita harus disiplin dan tidak mudah malas. Dua hal itu berpengaruh ke semua kerjaan. Kalau saya malas, saya akan mengingat pelanggan yang memberikan respon dan mendorong saya supaya tidak malas. Pada dasarnya, tantangan paling besar itu diri sendiri.




Nilai-nilai apa yang Anda terapkan dalam berbisnis dan berkarya?
Dari segi desain saya tidak selalu memikirkan idealisme saya. Jadi saya menuangkan idealisme ke produk yang bisa dipakai semua orang. Dalam berbisnis saya berusaha untuk tidak terlalu money minded. Saya memelihara kualitas desain dan produk. Kualitas itu sendiri yang menjamin bisnis saya.

Apakah Anda memiliki gadget yang mendukung pekerjaan Anda?
Untuk membuat pola masih manual. Untuk desain, saya menggunakan MacBook dan iPad untuk mempresentasikan kepada klien atau konsumer.

Apa target yang belum tercapai?
Target yang belum tercapai itu go international -- target yang masih jauh ke depan [tertawa]. Untuk target tahunan meluncurkan koleksi Sisca Tjong dan koleksi per-season. Selain itu, memperluas lagi pasar untuk Paperdolls.



Thank you mba Sisca!




0 comments:

Poskan Komentar

 
Copyright 2009 Kay Mori