The Rising Young Designer
Lewat
karyanya yang bergaris romantis dan dramatis, nama Sisca Tjong mulai terdengar
di antara deretan desainer muda Indonesia. iCreate
berbincang dengan perempuan punyuka musik jazz alternative dan film drama roman
picisan ini di workshopnya di bilangan Jakarta Selatan. Sisca berbicara tentang
karya dan prinsipnya dalam bermain di industri
fashion tanah air.
Teks: Moch.
Reza Rizky Fotografi: Laki
Gushary
Mengapa
Anda memilih untuk menjadi seorang desainer fashion?
Saya memang suka desain, suka gambar.
Lebih tertarik ke dunia seni dari kecil. Setelah lulus SMA di Medan, saya
melanjutkan kuliah sastra Mandarin di Taiwan. Saat itu saya masih bingung,
sepertinya Taiwan bukan dunia saya, kemudian saya memutuskan pulang ke
Indonesia dan belajar fashion design di ESMOD Jakarta. Sebenarnya saya sudah ingin
masuk ESMOD sejak SMA sekitar tahun 2000, tapi belum diizinkan orang tua,
karena saat itu dunia fashion masih
kurang menjanjikan. Setelah lulus dari ESMOD, baru mulai bikin label
sendiri.
Bagaimana
ceritanya hingga Anda akhirnya memiliki brand
sendiri?
Awalnya iseng [tertawa]. Seperti
banyak fresh graduate, sesudah lulus saya mencari-cari kerja. Sempat kerja di perusahaan
garmen, tapi cuman bertahan tiga bulan. Saat itu ada teman yang mengajak untuk
membuat label. Dulu masih belum ada indie
label, yang terkenal distro atau high-end
brand. Middle level label masih
belum ada, jadi saya dan teman bikin label indie
di 2007 namanya Paperdolls. Berhubung teman saya menikah pada waktu itu, jadi
Paperdolls sampai sekarang saya yang urus. Untuk label Sisca Tjong awalnya custom made, waktu itu banyak teman yang
minta dibikinin baju. Dari pengalaman
itu saya berpikir, “Pengalaman saya sudah ada, kenapa nggak sekalian saja bikin
label nama sendiri.” Koleksi tiap musim Sisca Tjong sendiri baru mulai dibuat tahun
ini. Semua itu diawali keseriusan, seru-seruan, bukan rencana yang sudah
diatur.
Apa
yang menjadi inspirasi desain Anda?
Transparansi dan dimensi, jadi koleksinya
berbahan transparan dan tembus pandang.
Apakah
ada material khusus yang digunakan untuk koleksi Anda?
Saya lebih memakai material yang siap
pakai seperti katun, bahan-bahan kaos. Kalau yang couture tergantung dari volume baju. Untuk yang di Jakarta Fashion
Week 2012 kemarin saya memakai bahan organza, sifon, tekstur, dan teknik raffling. Bahan-bahannya lebih banyak saya
dapatkan dari Indonesia.
Bagaimana
Anda mendeskripsikan koleksi Anda sendiri?
Feminin, romantis, dan dramatis.
Koleksi yang bisa dipakai semua orang. Ketika mendesain saya selalu memikirkan
orang yang akan memakai baju saya. Jadi saya tidak akan bikin baju seperti yang
dipakai Lady Gaga, tidak mungkin sekali, karena yang akan memakai hanya dia
saja.
Ciri
khas desain pakaian Anda seperti apa?
Saya suka bermain detail; bordir, cutting, struktural, dan dimensi. Orang
yang baru tahu saya tidak akan mudah menangkapnya. Tapi yang sudah kenal pasti
tahu, walau saya bikin satu koleksi dengan detail berbeda, selalu ada garis
desain yang menjadi ciri khas saya.
Desainer
yang menjadi inspirasi Anda?
Untuk dijadikan panutan, saya suka
Biyan. Cara dia bekerja bagus, selalu mempunyai inspirasi yang berbeda-beda dan
mengeluarkan sesuatu yang baru. Konsistensinya ada dan hampir sempurna untuk
ukuran Indonesia. Untuk detail dan inovasi, beberapa desainer seperti Mel Ahyar
dan Priyo Oktaviano. Kalau dari luar negeri saya suka Lanvin, Issey Miyake, dan
Karl Lagerfeld.
Apa
tantangan terbesar dalam pekerjaan Anda?
Dalam hal produksi dan menghadapi
klien. Klien itu seperti bos untuk saya
dan sebenarnya kerjaan itu sendiri adalah tantangan, kita harus disiplin
dan tidak mudah malas. Dua hal itu berpengaruh ke semua kerjaan. Kalau saya
malas, saya akan mengingat pelanggan yang memberikan respon dan mendorong saya
supaya tidak malas. Pada dasarnya, tantangan paling besar itu diri sendiri.
Nilai-nilai
apa yang Anda terapkan dalam berbisnis dan berkarya?
Dari segi desain saya tidak selalu
memikirkan idealisme saya. Jadi saya menuangkan idealisme ke produk yang bisa
dipakai semua orang. Dalam berbisnis saya berusaha untuk tidak terlalu money minded. Saya memelihara kualitas
desain dan produk. Kualitas itu sendiri yang menjamin bisnis saya.
Apakah
Anda memiliki gadget yang mendukung
pekerjaan Anda?
Untuk membuat pola masih manual. Untuk
desain, saya menggunakan MacBook dan iPad untuk mempresentasikan kepada klien
atau konsumer.
Apa
target yang belum tercapai?
Target yang belum tercapai itu go
international -- target yang masih jauh ke depan [tertawa]. Untuk target
tahunan meluncurkan koleksi Sisca Tjong dan koleksi per-season. Selain itu, memperluas lagi pasar untuk Paperdolls.
Thank you mba Sisca!






0 comments:
Poskan Komentar